Tampilkan postingan dengan label DALAM NEGERI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DALAM NEGERI. Tampilkan semua postingan
Senin, 20 Februari 2012
93% Facebookers Memilih “Indonesia tanpa JIL” Daripada “Indonesia tanpa FPI” Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18737/93-facebookers-memilih-indonesia-tanpa-jil-daripada-indonesia-tanpa-fpi/#ixzz1mzSmbSeG
SoB News – Semejak aksi segelintir orang yang menolak FPI di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, muncul wacana penolakan FPI. Bahkan sebuah aksi yang dimotori Jaringan Islam Liberal (JIL) digelar di bundaran HI mengusung tema “Indonesia tanpa FPI”. Hal ini juga bergema hingga dunia internet di mana Twitter ramai dengan wacana ini.Namun rupanya hal ini memunculkan reaksi. Di Twitter pun lalu muncul seruan “Indonesia tanpa JIL”. Sebagaimana diketahui, JIL adalah salah satu komponen yang paling getol menentang keberadaan FPI.
Demikian pula di Facebook muncul gerakan serupa. Sebuah Facebook Fans Page yang bernama “Belajar Islam” bahkan membuat polling dengan pertanyaan: Pilih mana, “Indonesia Tanpa Jaringan Islam Liberal (JIL)” atau “Indonesia Tanpa Front Pembela Islam (FPI)”? Hingga berita ini diturunkan, sebanyak 234 Facebookers memilih “Indonesia tanpa JIL” dan hanya 17 Facebookers yang memilih “Indonesia tanpa FPI”. Dengan kata lain sebanyak 93% Facebookers tidak menginginkan keberadaan JIL, dan hanya 7% Facebookers yang tidak menginginkan keberadaan FPI. Bagaimana dengan Anda? (is)
Rabu, 15 Februari 2012
Sesama JIL pun Saling Pukul, lalu siapa yang anarkis ???
JAKARTA (SoB News) - Saat mendengar rumor Laskar FPI akan menuju bunderan HI, kemarin, Selasa (14/2) sore, para pengunjuk rasa yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Tanpa FPI, mulai terlihat panik, sambil mencari posisi aman.Disaat orasi yel-yel “Indonesia Tanpa FPI”, tiba-tiba terdengar suara gaduh di tengah-tengah kerumunan. Semua mata tertuju pada kerumunan yang gaduh itu, begitu pun wartawan yang meliput. Tidak ada yang tahu, siapa yang dikerumuni oleh massa JIL itu. Mereka merangsek, mengepung dan hendak mengeroyok seseorang yang dikiranya laskar FPI itu.
Dalam pemantauan Voa-Islam di lapangan, ternyata yang dikerumuni dan hendak digebuki itu bukan laskar FPI, melainkan sesama mereka sendiri. Voa Islam menyaksikan massa JIL itu justru mengepung dan mengeroyok lelaki berambut gimbal dan berpakaian ala punk, yang tak lain temannya sendiri, sesama pengunjuk rasa Gerakan Indonesia Tanpa FPI.
Sejak awal, sudah terlihat lelaki berambut gimbal itu berada di barisan kaum fasik liberal, seraya membawa spanduk yang berisi kebencian terhadap FPI. Dalam kerumunan itu juga terlihat aksi saling merebut spanduk. Melihat situasi seperti itu, polisi bergerak cepat untuk mengendalikan situasi. Lelaki berambut gimbal itu lalu digiring ke posko polisi lalu lintas di sekitar Bunderan HI.
Polisi juga menggiring tiga pemuda lainnya ke dalam mobil tahanan milik polisi. Diantara mereka, ada seorang pemuda berperawakan berjenggot. Tapi pemuda itu bukan laskar FPI, melainkan temannya Guntur Romli, dedengkot JIL yang ikut dalam aksi tak damai itu.
Pemuda yang digiring ke mobil polisi itu, memperlihatkan wajahnya yang panik, sambil teriak-teriak minta tolong via telepon selulernya. “Woi….gue ini temennya Guntur Romli…tolong diurus. Kasih tahu Guntur Romli,” kata cowok berjenggot berkali-kali, namun ucapannya itu tak dihiraukan temannya sendiri, tak terkecuali Guntur Romli yang tak bergeming membantu temannya yang hampir dikeroyok sesama pengunjuk rasa, sesama JIL.
Maksud hati ingin mengepruk laskar FPI, tak tahunya mengepruk kawan sendiri. Ohh….Kaciyan deh….Jeruk kok makan jeruk. (Desastian) sumber voa-islam
Korban Malam Valentine: Sepasang Kekasih Tewas Cekcok Soal Hamil Zina
SIDOARJO (SoB News) – Sepasang kekasih gelap tewas di malam Valentine’s Day, karena cekcok soal kehamilan di luar nikah.Bertepatan di malam Valentine, sepasang kekasih ditemukan tewas di pinggir sungai Desa Jogosatru Sukodono. Keduanya adalah M Abdul Ghofur (22) asal Desa Jogosatru dan Femilia Martasia (19) warga Dusun Kanigoro Desa Keboharan Krian.
Ghofur ditemukan warga dalam kondisi tubuhnya tergantung dengan leher terjerat ikat pinggang kecil yang mengikat di pohon keres. Sedangkan Femilia tergeletak dipinggir sungai irigasi.
Keduanya sempat dilarikan oleh warga dan Kades Jogosatru Sugito beserta keluarga korban ke puskesmas Sukodono untuk mendapatkan pertolongan. Namun setibanya di puskesmas, dokter puskesmas keduanya menyatakan keduanya sudah meninggal sebelum tiba di puskesmas.
Saat ditemukan, korban perempuan yang bekerja di pabrik kopi Gilang Taman, mengalami luka lebam di bagian wajah dan dilehernya ada bekas cekikan. Sedangkan lelaki pekerja di pabrik Baja Taman luka di bagian leher atau bekas jeratan ikat pinggang tersebut.
Informasi yang dihimpun beritajatim.com, sebelum ditemukan tewas, diduga keduanya terlibat cekcok. Seperti si perempuan minta pertanggungjawaban soal kehamilannya. Diduga dalam cekcok itu, Femilia sempat dicekik oleh Ghofur hingga tewas. Setelah itu Ghofur bunuh diri dengan cara gantung diri.“Hasil visumnya, korban diduga hamil. Berapa usia kandungan itu, masih menunggu hasil visum secara keseluruhan,” ucap sumber di kepolisian Rabu (15/2/2012).
Kapolsek Sukodono AKP Redik TB menyatakan, pihaknya mengetahui kejadian itu setelah korban berada di puskesmas Sukodono. Dari hasil visum sementara RS Bhayangkara Pusdik Gasum Porong, korban perempuan tewas akibat kekurangan oksigen dibagian rongga tenggorokan akibat cekikan. “Kami belum bisa menjelaskan secara detail. Karena dari lima saksi masih diperiksa,” tandasnya. [taz/bjt] sumber voa-islam
Sabtu, 11 Februari 2012
Habib Rizieq Tuding Gubernur Kalteng Otak Penyerangan Utusan FPI
Palangkaraya (SoB News) – Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab, yang tidak ikut ke Palangkaraya, menduga ada oknum yang sengaja memprovokasi warga Dayak dengan tujuan adu domba. Habib menuding Gubernur dan Kapolda Kalteng terlibat dalam pengerahan warga Dayak.
“Gubernur Kalteng, Teras Narang, punya hubungan sangat buruk dengan FPI. Dua hari lalu, via media lokal, Yansen Binti, kerabat Gubernur Kalteng menebar ancaman terhadap FPI dan Kapolda Kalteng beri pernyataan tidak mau bertanggung jawab,” tegas Habib Rizieq, Sabtu (11/02/2012), seperti dilansir situs resmi FPI, www. fpi.or.id.
Sebelumnya, Gerakan Pemuda Dayak Indonesia Kalimantan Tengah (GPDI-KT) dan Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng menolak rencana pembentukan organisasi Fron Pembela Islam (FPI) di wilayah Kalteng. Penolakan itu disampaikan Ketua Umum GPDI-KT Yansen A Binti, melalui Surat No 09/GPDI-KT/II/2012 tertanggal Kamis (9/2/2012), perihal penolakan terhadap kehadiran FPI di Tambun Bungai. Dalam surat itu berisi, penolakan ini atas instruksi lisan dari Ketua Umum DAD Kalteng Sabran Achmad, yang secara tegas menolak dan tidak setuju atas kehadiran FPI di Kalteng.
Unjuk rasa penolakan kedatangan tokoh FPI ini juga terjadi di Bundaran besar Palangkaraya. Ratusan pemuda Dayak mendeklarasikan berdirinya Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak Kalteng. Turut hadir dalam unjuk rasa di bundaran besar ini antara lain Wakil Sekjen Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) yang juga Sekretaris Daerah Kalimantan Tengah Siun Jarias dan Wakil Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah Lukas Tingkes. Saat berorasi, Lukas Tingkes menolak FPI di Kalimantan Tengah dan tidak boleh ada kegiatannya di Kalteng.
Sementara itu Ketua FPI Bidang Nahi Munkar, Munarman, menilai penolakan terhadap kedatangan pengurus pusat FPI merupakan bentuk balas dendam Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang terhadap Islam. Terutama terkait sejumlah kasus di Jabodetabek.
Mantan Direktur YLBHI itu menduga Teras Narang melihat dengan salah kasus Ciketing di Bekasi dan GKI Yasmin di Bogor. Teras Narang mungkin melihat ada peran FPI di belakang kasus-kasu gereja ilegal itu. "Jadi dia balas dendam terhadap FPI", katanya. Saat ditanya tentang kemungkinan terjadinya konflik horizontal di Jakarta, Munarman menepisnya. "Kita tidak akan terprovokasi", katanya.
Laskar Jangan Terprovokasi
DPP FPI meminta kepada Menkopolhukam, Mendagri, DPR-RI dan Kapolri serta Instansi terkait lainnya untuk usut tuntas kasus tersebut serta periksa Gubernur Kalteng, Kapolda Kalteng, Yansen Binti dkk tentang dugaan keterlibatan mereka dalam tindak kejahatan yang berpotensi timbulkan konflik horizontal serta mengancam stabilitas NKRI.
DPP FPI menginstruksikan kepada segenap Laskar Dayak Muslim FPI se-Kalimantan jangan terprovokasi dan segera lakukan klarifikasi, sosialisasi dan konsolidasi untuk antisipasi segala bentuk agitasi. Selama ini hubungan FPI dan Dayak (muslim/ non muslim) sangat baik, bahkan sebulan lalu delegasi warga Dayak Kalteng dari berbagai agama mendatangi DPP FPI meminta bantuan untuk menghadapi arogansi Gubernur Kalteng dan Kapolda Kalteng tentang Konflik Agraria seperti Kasus Mesuji – Lampung. Habib menyerukan agar menjaga persatuan Dayak, hantam pengadu domba. Desastian ( voa-islam )
Valentine's Day Bukan Hari Kasih Sayang, Kasihan Dech Lu..!!
Sob, memasuki bulan Februari, kita menyaksikan banyak media massa, mal-mal, pusat-pusat hiburan bersibuk-ria berlomba menarik perhatian mulai dari para remaja yang masih bau kencur sampai dengan adult (wong dewasa) dengan menggelar acara-acara pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga larut malam bahkan hingga dini hari. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine’s Day atau biasanya disebut hari kasih sayang.
Biasanya pada 14 Februari mereka saling mengucapkan “selamat hari Valentine”, berkirim kartu dan bunga, saling bertukar pasangan, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta.
Sangat disayangkan banyak AaBeGe khususnya teman-teman kita, para remaja putri muslimah yang terkena penyakit ikut-ikutan dan mengekor budaya Barat atau budaya ritual agama lain akibat pengaruh TV dan media massa lainnya. Termasuk dalam hal ini perayaan Hari Valentine, yang pada dasarnya adalah mengenang kembali pendeta St. Valentine. Belakangan, Virus Valentine tidak hanya menyerang remaja bahkan orang tua pun turut larut dalam perayaan yang bersumber dari budaya Barat ini.
Sangat disayangkan banyak AaBeGe khususnya teman-teman kita, para remaja putri muslimah yang terkena penyakit ikut-ikutan dan mengekor budaya Barat atau budaya ritual agama lain akibat pengaruh TV dan media massa lainnya. Termasuk dalam hal ini perayaan Hari Valentine, yang pada dasarnya adalah mengenang kembali pendeta St. Valentine. Belakangan, Virus Valentine tidak hanya menyerang remaja bahkan orang tua pun turut larut dalam perayaan yang bersumber dari budaya Barat ini.
Sejarah Valentine
Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine, tetapi versi terkenal adalah
1. Kisah Pendeta St. Valentine yang hidup di akhir abad ke 3 M di zaman Raja Romawi Claudius II. Pada tanggal 14 Februari 270 M Claudius II menghukum mati St. Valentine yang telah menentang beberapa perintahnya.
Claudius II melihat St. Valentine meng-ajak manusia kepada agama Nasrani lalu dia memerintahkan untuk menangkapnya.
Claudius II melihat St. Valentine meng-ajak manusia kepada agama Nasrani lalu dia memerintahkan untuk menangkapnya.
2. Dalam versi kedua , Claudius II memandang para bujangan lebih tabah dalam berperang daripada mereka yang telah menikah yang sejak semula menolak untuk pergi berperang. Maka dia mengeluarkan perintah yang melarang pernikahan. Tetapi St. Valentine menentang perintah ini dan terus mengada-kan pernikahan di gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya diketahui lalu dipenjarakan. Dalam penjara dia berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang terserang penyakit. Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan “Dari yang tulus cintanya, Valentine.” Hal itu terjadi setelah anak tersebut memeluk agama Nasrani bersama 46 kerabatnya.
3. Versi ketiga menyebutkan ketika agama Nasrani tersebar di Eropa, di salah satu desa terdapat sebuah tradisi Romawi yang menarik perhatian para pendeta. Dalam tradisi itu para pemuda desa selalu berkumpul setiap pertengahan bulan Februari. Mereka menulis nama-nama gadis desa dan meletakkannya di dalam sebuah kotak, lalu setiap pemuda mengambil salah satu nama dari kotak tersebut, dan gadis yang namanya keluar akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Ia juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan “ dengan nama tuhan Ibu, saya kirimkan kepadamu kartu ini.”
Akibat sulitnya menghilangkan tradisi Romawi ini, para pendeta memutuskan mengganti kalimat “dengan nama tuhan Ibu” dengan kalimat “dengan nama Pendeta Valentine” sehingga dapat mengikat para pemuda tersebut dengan agama Nasrani.
Akibat sulitnya menghilangkan tradisi Romawi ini, para pendeta memutuskan mengganti kalimat “dengan nama tuhan Ibu” dengan kalimat “dengan nama Pendeta Valentine” sehingga dapat mengikat para pemuda tersebut dengan agama Nasrani.
Versi lain mengatakan:
1. St.Valentine ditanya tentang Atharid, tuhan perdagangan, kefasihan, makar dan pencurian, dan Jupiter, tuhan orang Romawi yang terbesar. Maka dia menjawab tuhan-tuhan tersebut buatan manusia dan bahwasanya tuhan yang sesungguhnya adalah Isa Al Masih, oleh karenanya ia dihukum mati. Maha Tinggi Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang zalim tersebut.
2. Hari tersebut adalah hari perayaan agama Romawi kuno yang meyakini 15 Februari adalah hari raya Lupercalia (dewa kesuburan), 2 hari pertama 13-14 Februari dirayakan sebagai persembahan bagi dewi cinta Juno Februata, diakhiri dengan pengundian para pemuda untuk memilih pasangannya yang boleh dizinahi selama setahun. Kemudian masuklah agama Nasrani yang menuntut akulturasi budaya pada masa Gregory I dan Paus Gelasius I, hari itu dinamakan Valentine Day karena bertepatan dengan kematian sang Santo (Encyclopedia Britannica, The World Book Encyclopedia)
Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.
Bahkan saat ini beredar kartu-kartu perayaan keagamaan ini dengan gambar anak kecil dengan dua sayap terbang mengitari gambar hati sambil mengarahkan anak panah ke arah hati yang sebenarnya itu merupakan lambang tuhan cinta bagi orang-orang Romawi!!!
Budaya ini diawali pada 1415 M, Duke of Orleans yang sedang dipenjara di Tower of London mengirim surat pada istrinya pada hari perayaan valentine, oleh seorang penyair Inggris Geoffrey Chaucer peristiwa itu dikaitkan dengan musim kawin burung dalam sebuah puisi.
Kasih sayang atau kasian dech lu...???
Setelah paham ‘amburadul’nya si Valentine, sebagai Muslim kita harus berkaca pada identitas kita dan syariat kita.
1. Ingat agama ini melarang kita ‘latah’,
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Qs. Al isra’ 36).
2. Kita dilarang ikut-ikut orang kafir karena bisa jadi kafir juga,
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman” (Qs. Ali ‘Imran 100).
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi” (Qs. Ali ‘Imran 149).
Ibnu Jarir At Thabari “ Dengan hal itu orang-orang beriman dilarang menaati pendapat orang kafir dan menerima nasihat dari ajaran agama mereka (Tafsir Ath-Thabari IV/123)
Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syiar dan kebiasaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”(Qs. Al-Maidah 51).
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung” (QS. Al mujadilah 22)
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman” (Qs. An-Nur 2).
Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah:
1. Ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah As-Sunnah (tuntunan Allah dan Rasul-Nya).
2. Tidak ada suatu bid’ah pun yang dihidupkan kecuali saat itu ada suatu sunnah yang ditinggalkan.
3. Dampak buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap rekaat shalatnya membaca.
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (Qs Al-Fatihah 6-7).
Masih maukah kita ikuti ibadah mereka???
Bagaimana bisa kita memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun kita sendiri malah menempuh jalan sesat itu dengan sukarela.
Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir, adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar.
Padahal Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam: “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut” (HR. At-Tirmidzi).
“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian”(HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).
Ibnul Qayyim berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan semisalnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”
Antara latah atau gak paham sunnah?
Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “Siapa yang mengikuti negara-negara ‘ajam dan melakukan perayaan Nairuz dan Mihrajan serta menyerupai mereka sampai ia meninggal dan dia tidak bertaubat maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat.”
Hadits yang cukup jelas, terang, tegas dan sekaligus bantahan terhadap orang yang gak ‘ngaca’ dulu sebelum beramal alias ‘latah’
Abu Waqid Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.’
Adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ ( loyalitas kepada muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar akidah yang dipegang oleh para nabi dan orang-orang terdahulu. Yaitu mencintai orang-orang mukmin dan membenci orang-orang kafir serta menyelisihi mereka dalam ibadah dan perilaku. Serta mengetahui bahwa sikap seperti ini di dalamnya terdapat kemaslahatan yang tidak terhingga, sebaliknya gaya hidup yang menyerupai orang kafir justru mengandung kerusakan yang lebih banyak.
Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang, lagi pula, menyerupai kaum kafir dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati.
Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin
Pertanyaan:
Pada akhir-akhir ini telah tersebar dan membudaya perayaan hari Valentine -terutama di kalangan pelajar putri, padahal ia merupakan salah satu dari sekian macam hari raya kaum Nasrani. Biasanya pakaian yang dikenakan berwarna merah lengkap dengan sepatu, dan mereka saling tukar mawar merah. Bagaimana hukum merayakan hari Valentine ini, dan apa pula saran dan anjuran anda kepada kaum muslimin. Semoga Allah selalu memelihara dan melindungi anda.
Jawab:
Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena:
Pertama, ia merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syariat Islam.
Kedua, ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para pendahulu kita yang sholeh. Semoga Allah meridhai mereka. Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan.
Ada seorang gadis mengatakan, bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya. Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi perayaan ini adalah dari ritual agama lain!
Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka.
Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan yang agung, kita bisa mempersembahkan ketulusan dan cinta itu kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami …dst, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh orang-orang kafir.
Semoga Allah senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang saling mencintai karna Allah dan membenci karna Allah ‘azza wa jalla.
Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya. Wallahu a’lam bish-shawwab [Ibnu Irman]. voa-islam
Sabtu, 04 Februari 2012
Habib Rizieq Syihab: Kaum Liberal Tidak Akan Berhenti Serang Islam
Bekasi (SoB News) – Musuh-musuh Islam tidak akan pernah berhenti untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Mereka senantiasa hendak memadamkan cahaya, aturan dan ketentuan Allah dengan statement yang disebarkan melalui jaringan internet,baik lewat Facebook, twitter dan sebagainya. Dengan terang benderang, mereka begitu gigih menyerang Islam dengan segala cara.Hal itu dikatakan Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab saat mendeklarasikan Lembaga Dakwah Front (LDF) Bekasi Raya-- sebuah sayap perjuangan FPI -- di Islamic Center Bekasi, belum lama ini. Hadir dalam deklarasi bertajuk “Berdakwah Meniti Jejak Salaful Ummah, Ditengah sikap fanatik, golongan dan pembiaran umat” tersebut, antara lain: Ustadz Farid Okbah, Ustadz Abdul Qadir Aka, Ustadz Murhali Barda, Ustadz Nazirual al Ghoby, dan Moslem Pahlevy.
Dikatakan Habib Rizieq, musuh Islam tidak akan berhenti menyerang Islam sampai hari kiamat. Perang antara hak dan batil akan terus berlanjut. Namun, Habib menyakinkan, Allah akan memenangkan agama ini (Islam). Itu sudah jaminan dari Allah. Maka dari itu, umat Islam harus waspada penuh dengan serangan musuh dari arah depan-belakang, kiri-kanan, atas-bawah. Mereka senantiasa menghalalkan segala cara.
“Umat Islam jangan lalai, harus mempersiapkan diri, bukan untuk menciptakan perang, tapi menyiapkan perang jika sekiranya musuh menyerang kita secara fisik. Itulah sebanya, umat Islam harus selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk,” ujar Habib.
Jaminan Allah Islam akan menang, seyogianya menjadi imunisasi buat para dai dan aktivis dakwah untuk tidak berputus asa dalam menegakkan kalimat Allah. Tentu saja, kemenangan itu bisa diraih, jika para pendakwah ikhlas dalam berjuang. “Dakwah itu bukan untuk mencari popularitas, mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya, mengejar kedudukan dan jabatan, melainkan mengharap ridho Allah. Para aktivis dakwah harus yakin dengan pertolongan Allah,” tukas Habib.
Habib Rizieq mengingatkan, kaum Liberal akan selalu mencari celah untuk menggagalkan perundang-undangan bernuansa syariat. Bukan hanya UU Pornografi yang mereka jegal, tapi juga UU Penodaan Agama, UU Anti Perjudian, dan terakhir Perda Anti Miras. Usaha mereka bermain di tataran hukum begitu sistematis. Sampai-sampai umat Islam kecolongan. Kalah di DPR, mereka memperjuangkannya ke Mahkamah Konstitusi (MK).
Sepilis Tidak Bisa Tidur
Belum lama ini, baru sebulan yang lalu, sebuah organisasi kemahasiswaan Islam meminta MK untuk membatalkan salah satu ayat (judicial review) yang melarang peredaran buku yang menghina Allah, Nabi, Sahabat, dan Islam. Ironisnya, MK menerima gugatan itu. Dengan begitu, Kejaksaan tidak punya wewenang untuk melarang peredaran buku-buku yang menghujat Islam.
“Saya curiga ada apa dengan MK. Kenapa MK tidak mengundang dan memberi tahu MUI, NU, Muhammadiyah, dan ormas Islam lain. Saya berharap, para aktivis dakwah senantiasa melek mata, buka telinga terhadap sepak terjang kaum liberal,”tandas Habib.
Terkait Perda Anti Miras, Komnas HAM mulai menekan dan mengancam Kemendagri, untuk mewaspadai keberadaan 1.000 perda yang bernuasa syarat Islam. Habib memberi contoh, di Tangerang, digelar sebuah razia bagi perempuan bercelana pendek di muka umum. Melihat razia itu, LSM-LSM liberal marah besar, seraya menyebut razia itu sebagai bentuk pelanggaran HAM. “Inilah bukti, kaum liberal tidak bisa tidur, ketika Indonesia telah diwarnai dengan perda bernuansa syariat,” kata Habib Rizieq. Desastian
Senin, 23 Januari 2012
Kaum Muslimin Haram Mengucapkan Selamat dan Merayakan Imlek (Tahun Baru Cina)
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.Anda mungkin pernah mendengar pernyataan begini, "Bahwa Imlek itu hanyalah tradisi etnis Tionghoa dan bukan bagian ajaran agama tertentu". Karenanya umat Islam khususnya yang beretnis Tionghoa boleh-boleh saja merayakan Imlek. Benarkah Imlek hanya tradisi? Bolehkah seorang muslim turut merayakan Imlek? Tulisan ini berusaha untuk menjawab dua pertanyaan tersebut, dengan menelaah ajaran agama Khonghucu, serta menelaah hukum syariah Islam yang terkait dengan keterlibatan kaum muslimin dalam perayaan hari raya agama lain.
Imlek Adalah Ajaran Agama Khonghucu, Bukan Sekedar Tradisi Tionghoa
Memang tak jarang kita dengar dari orang Tionghoa, termasuk tokoh-tokohnya yang sudah masuk Islam, bahwa Imlek itu sekedar tradisi. Tidak ada hubungannya dengan ajaran suatu agama sehingga umat Islam boleh turut merayakannya. Sebagai contoh, Sekretaris Umum DPP PITI (Pembina Iman Tauhid Islam), H. Budi Setyagraha (Huan Ren Cong), pernah menyatakan bahwa Imlek adalah tradisi menyambut tahun baru penanggalan Cina, datangnya musim semi, dan musim tanam di daratan Cina.
H. Budi Setyagraha berkata,”Imlek bukan perayaan agama.” (Lihat “Sekjen DPP PITI : Rayakan Imlek Jangan Berlebihan”,Kedaulatan Rakyat, Selasa, 13 Pebruari 2007, hal. 2).
Padahal kalau kita mendalami agama Khonghucu, khususnya mengenai hari-hari rayanya, terbukti bahwa pernyataan tersebut tidak benar. Sebab sebenarnya Imlek adalah bagian integral dari ajaran agama Khonghucu, bukan semata-mata tradisi.
Dalam bukunya Mengenal Hari Raya Konfusiani (Semarang : Effhar & Dahara Prize, 2003) hal. vi-vii, Hendrik Agus Winarso menyebutkan bahwa masyarakat memang kurang memahami Hari Raya Konfusiani.
Dalam bukunya Mengenal Hari Raya Konfusiani (Semarang : Effhar & Dahara Prize, 2003) hal. vi-vii, Hendrik Agus Winarso menyebutkan bahwa masyarakat memang kurang memahami Hari Raya Konfusiani.
Hendrik Agus Winarso mengatakan,”Misalnya Tahun Baru Imlek dianggap sebagai tradisi orang Tionghoa.” Dengan demikian, pandangan bahwa Imlek adalah sekedar tradisi, yang tidak ada hubungannya dengan agama, menurut penulis buku tersebut, adalah suatu kesalahpahaman (Ibid., hal. v).
Dalam buku yang diberi kata sambutan oleh Ketua MATAKIN tahun 2000 Hs. Tjhie Tjay Ing itu, pada hal. 58-62, Hendrik Agus Winarso telah membuktikan dengan meyakinkan bahwa Imlek adalah bagian ajaran Khonghucu. Hendrik Agus Winarso menerangkan, Tahun Baru Imlek atau disebut juga Sin Cia, merupakan momentum untuk memperbarui diri. Momentum ini, kata beliau, diisyaratkan dalam salah satu kitab suci Khonghucu, yaitu Kitab Lee Ki, bagian Gwat Ling, yang berbunyi:
“Hari permulaan tahun (Liep Chun) jadikanlah sebagai Hari Agung untuk bersembahyang besar ke hadirat Thian, karena Maha Besar Kebajikan Thian. Dilihat tiada nampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia… (Tiong Yong XV : 1-5).
(Lihat Hendrik Agus Winarso, Mengenal Hari Raya Konfusiani,[Semarang : Effhar & Dahara Prize, 2003], hal. 60-61).
(Lihat Hendrik Agus Winarso, Mengenal Hari Raya Konfusiani,[Semarang : Effhar & Dahara Prize, 2003], hal. 60-61).
Penulis buku tersebut lalu menyimpulkan Imlek adalah bagian ajaran Khonghucu, dengan menegaskan,”Dengan demikian, menyambut Tahun Baru bagi umat Khonghucu Indonesia mengandung arti ketakwaan dan keimanan.” (ibid.,hal. 61).
Maka tidaklah benar pendapat yang menyebutkan bahwa Imlek hanya sekedar tradisi orang Tionghoa, atau Imlek bukan perayaan agama. Yang benar, Imlek justru adalah bagian ajaran agama Khonghucu, bukan sekedar tradisi.
Lagi pula, harus kami tambahkan bahwa boleh tidaknya seorang muslim melakukan sesuatu, tidaklah dilihat apakah sesuatu itu berasal dari tradisi atau ataukah dari agama. Seakan-akan kalau berasal dari tradisi hukumnya boleh-boleh saja dilakukan, sementara kalau dari agama lain hukumnya tidak boleh.
Standar semacam itu sungguh batil dan tidak ada dalam Islam. Karena standar yang benar menurut Islam, adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (artinya):
اتَّبِعُوا Ù…َا Ø£ُÙ†ْزِÙ„َ Ø¥ِÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ Ù…ِÙ†ْ رَبِّÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙ„َا تَتَّبِعُوا Ù…ِÙ†ْ دُونِÙ‡ِ Ø£َÙˆْÙ„ِÙŠَاءَ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.”(QS. Al-A’raaf: 3)
Kalimat “maa unzila ilaykum min rabbikum” dalam ayat di atas yang berarti “apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”,artinya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Tafsir Al-Baidhawi, [Beirut: Dar Shaadir], Juz III/2).
Jadi suatu perbuatan itu boleh atau tidak boleh dilakukan, tolok ukurnya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Apa saja yang benar menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, berarti boleh dikerjakan. Sebaliknya apa saja yang batil menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, berarti tidak boleh dilakukan
Maka kalau kita hendak menilai perbuatan muslim turut merayakan Imlek menurut Islam, tolok ukurnya harus benar. Yaitu harus kita lihat adalah apakah perbuatan itu boleh atau tidak menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, bukan melihat apakah Imlek itu dari tradisi atau dari agama.
Sungguh kalau seorang muslim menggunakan tolok ukur tadi, yaitu melihat sesuatu itu dari tradisi atau agama, ia akan tersesat. Sebab suatu tradisi tidak selalu benar, adakalanya ia bertentangan dengan Islam dan adakalanya sesuai dengan Islam. Contoh, free sex pada masyarakat Barat yang Kristen.Free sex jelas telah menjadi tradisi Barat, meski perbuatan kotor itu bukan bagian agama Kristen/Katholik, karena agama ini pun mengharamkan zina. Lalu, apakah karena free sex itu sekedar tradisi, dan bukan agama, lalu umat Islam boleh melakukannya? Jelas tetap tidak boleh, bukan?
Walhasil, mari kita gunakan barometer yang benar untuk menilai suatu perbuatan. Barometernya, bukan dilihat dari segi asalnya apakah suatu perbuatan itu dari tradisi atau agama, melainkan dilihat dari segi boleh tidaknya perbuatan itu menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah. Inilah pandangan yang haq, tidak ada yang lain.
Haram Atas Muslim Turut Merayakan Imlek
Berdasarkan dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan hari raya agama lain, termasuk Imlek, baik dengan mengikuti ritual agamanya maupun tidak, baik dianggap ajaran agama maupun dianggap tradisi, termasuk juga memberi ucapan selamat Gong Xi Fat Chai. Semuanya haram.
Imam Suyuthi berkata,”Juga termasuk perbuatan mungkar, yaitu turut serta merayakan hari raya orang Yahudi, hari raya orang-orang kafir, hari raya selain orang Arab [yang tidak Islami], ataupun hari raya orang-orang Arab yang tersesat. Orang muslim tidak boleh melakukan perbuatan itu, sebab hal itu akan membawa mereka ke jurang kemungkaran…” (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ’An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91).
Imam Suyuthi berkata,”Juga termasuk perbuatan mungkar, yaitu turut serta merayakan hari raya orang Yahudi, hari raya orang-orang kafir, hari raya selain orang Arab [yang tidak Islami], ataupun hari raya orang-orang Arab yang tersesat. Orang muslim tidak boleh melakukan perbuatan itu, sebab hal itu akan membawa mereka ke jurang kemungkaran…” (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ’An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91).
Khusus mengenai memberi ucapan selamat, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata,”Adapun memberi ucapan selamat yang terkait syiar-syiar kekufuran yang menjadi ciri khas kaum kafir, hukumnya haram menurut kesepakatan ulama, misalnya memberi selamat atas hari raya atau puasa mereka...” (Ahkam Ahli Adz-Dzimmah, [Beirut : Darul Kutub Al-’Ilmiyah], 1995, Juz I/162).
Dalil Al-Qur`an yang mengharamkan perbuatan muslim merayakan hari raya agama kafir di antaranya firman Allah SWT (artinya) : “Dan (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah) orang-orang yang tidak menghadiri kebohongan…” (QS. Al-Furqan: 72).
Kalimat “laa yasyhaduuna az-zuur” dalam ayat tersebut menurut Imam Ibnu Taimiyah maknanya yang tepat adalah tidak menghadiri kebohongan (az-zuur), bukan memberikan kesaksian palsu. Dalam bahasa Arab, memberi kesaksian palsu diungkapkan dengan kalimat yasyhaduuna bi az-zuur.Jadi ada tambahan huruf jar yang dibaca bi. Bukan diungkapkan dengan kalimat yasyhaduuna az-zuur (tanpa huruf jar bi). Maka ayat di atas yang berbunyi “laa yasyhaduuna az-zuur” artinya yang lebih tepat adalah ”tidak menghadiri kebohongan”, bukannya ” memberikan kesaksian palsu.” (M. Bin Ali Adh-Dhabi’i, Mukhtarat min Kitab Iqtidha` Shirathal MustaqimMukhalafati Ash-habil Jahim (terj.), hal. 59-60)
Sedang kata “az-zuur” (kebohongan) itu sendiri oleh sebagian tabi’in seperti Mujahid, adh-Dhahak, Rabi’ bin Anas, dan Ikrimah artinya adalah hari-hari besar kaum musyrik atau kaum jahiliyah sebelum Islam (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ’An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91-95).
Jadi, ayat di atas adalah dalil haramnya seorang muslim untuk merayakan hari-hari raya agama lain, seperti hari Natal, Waisak, Paskah, Imlek, dan sebagainya.
Imam Suyuthi berdalil dengan dua ayat lain sebagai dasar pengharaman muslim turut merayakan hari raya agama lain (Lihat Imam Suyuthi, ibid., hal. 92). Salah satunya adalah ayat (artinya) : “Dan sesungguhnya jika kamu [Muhammad] mengikuti keinginan mereka setelah datangnya ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 145).
Menurut Imam Suyuthi, larangan pada ayat di atas tidak hanya khusus kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, tapi juga mencakup umat Islam secara umum. Larangan tersebut adalah larangan melakukan perbuatan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh atau orang kafir [seperti turut merayakan hari raya mereka]. Sedangkan yang mereka lakukan bukanlah perbuatan yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya (Lihat Imam Suyuthi, ibid., hal. 92).
Adapun dalil As-Sunnah, antara lain Hadits Nabi SAW,“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).
Dalam hadits ini Islam telah mengharamkan muslim untuk menyerupakan dirinya dengan kaum kafir pada hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka, seperti hari-hari raya mereka. Maka dari itu, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan hari-hari raya agama lain (Lihat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penjelasan Tuntas Hukum Seputar Perayaan, [Solo : Pustaka Al-Ummat], 2006, hal. 76).
Berdasarkan dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah di atas, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan Imlek dalam segala bentuk dan manifestasinya. Haram bagi muslim ikut-ikutan mengucapkan Gong Xi Fat Chai kepada orang Tionghoa, sebagaimana haram bagi muslim menghiasi rumah atau kantornya dengan lampion khas Cina, atau hiasan naga dan berbagai asesoris lainnya yang serba berwarna merah. Haram pula baginya mengadakan berbagai macam pertunjukan untuk merayakan Imlek, seperti live band, karaoke mandarin, demo masak, dan sebagainya.
Semua bentuk perbuatan tersebut haram dilakukan oleh muslim, karena termasuk perbuatan terlibat merayakan hari raya agama kafir yang telah diharamkan Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Himbauan Kepada Muslim Etnis Tionghoa
Terakhir, kami sampaikan seruan dan himbauan kepada saudara-saudaraku muallaf dari etnis Tionghoa, hendaklah Anda masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhannya (kaffah). Janganlah Anda –semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda semua— mengikuti langkah-langkah setan, yakni masuk ke dalam agama Islam namun masih mempertahankan sebagian ajaran lama yang dulu Anda peluk dan Anda amalkan, seperti perayaan Imlek. Marilah kita masuk ke dalam agama Islam dengan seutuhnya dan seikhlas-ikhlasnya. Mari kita renungkan firman Allah SWT (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata bagimu.”(QS. Al-Baqarah: 208) Wallahu a’lam bi al-shawab.
[PurWD/voa-islam/www.khilafah1924.org]
Sabtu, 21 Januari 2012
Pancasila Akan Dijadikan Asas Tunggal, Rezim Orde Baru Bangkit Lagi
JAKARTA (SoB News) – Pancasila kembali menjadi asas tunggal yang dipaksakan bagi ormas, jika revisi terhadap UU Ormas no. 8/1995 berhasil diresmikan sebagai Undang-undang Ormas.Ketua Pansus Revisi Undang-Undang Organisasi Masyarakat (Ormas) Abdul Malik Haramain beralasan bahwa revisi terhadap UU Nomor 8/1985 untuk menertibkan keberadaan ormas di Indonesia. “RUU Ormas nantinya akan menjadi payung hukum keberadaan ormas di Indonesia,” ujarnya seperti dilansir okezone, Jum’at (20/1/2012).
Malik mengaku telah mendengar RDPU dari berbagai ormas disepakati asas Ormas adalah empat pilar yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. “Apapun bentuk ormasnya, harus berasaskan empat pilar tersebut,” lanjutnya.
Malik menduga, adanya liberalisme dan radikalisme di tanah air selama ini terjadi lantaran ormas-ormas tidak mencantumkan Pancasila sebagai asasnya. “Liberalisasi dan radikalisasi dipicu karena tidak adanya keharusan bagi ormas untuk mencantumkan Pancasila di dalam asas organisasinya,” tuturnya.
Menanggapi rencana pemaksaan Pancasila sebagai asas tunggal ormas tersebut, Sekjen Forum Umat Islam (FUI), KH Muhammad Al-Khaththath menengarai sebagai gerakan orang-orang di pemerintahan yang ingin membangkitkan kembali Orde Baru.
“Berarti masih ada unsur Orba yang ada di pemerintahan ini yang akan membangkitkan kembali Orde Baru, padahal masyarakat dulu sudah ditindas oleh Orde Baru. Ini berarti reformasi telah gagal membinasakan Orde Baru,” tegasnya.
Senada itu, pengamat politik dan pakar pergerakan Islam, Dr Amir Mahmud, SSos, MAg menilai gerakan pemberlakuan Pancasila sebagai asas tunggal adalah satu kemunduran ke zaman Orde Baru. Jika revisi RUU ormas tetap dipaksakan, berarti penguasa saat ini merupakan rezim otoriter dengan kemasan demokrasi. “Kalau ini tetap dipaksakan berarti ini rezim otoriter dengan kemasan demokrasi,” tegasnya. sumber [Ahmed Widad, voa-islam.com]
Kamis, 19 Januari 2012
Selain Pembatasan BBM, Tarif Listrik Juga Naik di April
Masyarakat Indonesia mungkin harus kembali mengencangkan ikat pinggang. Pasalnya, selain rencana pembatasan BBM, masih ada lagi kejutan di 2012 ini yang akan membuat, mungkin sebagian besar bangsa ini terperangah.Bagaimana tidak, di bawah tekanan ekonomi yang semakin besar saja, tiba-tiba menyeruak informasi tentang rencana pemerintah untuk menaikan lagi Tarif Dasar Listrik (TDL) pada April nanti.
Hal ini dibenarkan anggota Komisi VI-DPR Bambang Wauryanto saat berkunjung ke Semarang. Dia mengaku sudah mendengar perihal rencana kenaikan TDL itu, namun DPR belum menyetujuinya.
“Saya sudah lihat suratnya, tapi kalau akhirnya tidak jadi sehabis saya sampaikan ke media ya juga tidak tahu loh,” ucapnya sambil tertawa, di Semarang, belum lama ini.
Kenaikan ini kemungkinan akan menyentuh angka 10 persen dari tarif TDL saat ini. “Ini jelas akan mempengaruhi banyak hal, seperti kenaikan harga-harga bahan pokok dan lain lain, mending kalau punya duit dibuat usaha saja, soalnya dibuat deposito juga tidak akan membantu kita karena bunga bank akan selalu di bawah persentase kenaikan itu,” imbuhnya.
Di luar jadi atau tidaknya rencana kenaikan TDL tersebut, Ngargono dari LP2K Jawa Tengah mengingatkan, sebaiknya rencana itu dipelajari dengan baik dan terperinci. “Lha wong PLN saat ini sudah dalam posisi untung kok malah mau naik lagi tarifnya?” Heran Ngargono.
“Naik sih boleh, tapi jaminan kepada masyarakat untuk mendapatkan kualitas pelayanan PLN apakah akan menjadi lebih baik. Seharusnya DPR-RI menanyakan dulu tanggung jawab PLN dalam hal rasio elektrikfikasi. Rasio ini adalah rasio perbandingan penyaluran listrik di pedesaan, kalau tidak salah sekarang baru 30 persen pedesaan yang tersentuh listrik dari jumlah seluruh populasi desa di Indonesia. Jadi mending itu dulu lah yang dipikirin,” sebut Ngargono.
“Belum lagi masalah deklarasi mutu, yang sudah sejak 2004 dicanangkan. Tapi sampai saat ini tidak pernah ada sosialisasi kepada masyarakat. Sekarang saya tanya ke Anda. Apakah Anda pernah tahu bahwa listrik tidak boleh padam lebih dari sekian kali dalam sehari? Pasti banyak yang tidak paham tentang itu, masih banyak lagi deklarasi mutu yang harus disanmpaikan PLN kepada masyarakat terkait hak untuk mendapatkan mutu pelayanan,” ungkap Ngargono.
Maka dari itu, DPR sebagai wakil rakyat seharusnya menagih janji mutu pelayanan kepada PLN. “Ini harus dihembuskan dewan demi kepentingan masyarakat banyak,” tutup Ngargono. (okezone.com, 19/01/2012)
Rabu, 18 Januari 2012
Demi Piala, 10 Sutradara Anyaran Bikin Film Penyimpangan Seksual (LGBT)

JAKARTA (SoB News) – Demi mengejar piala di bidang perfilman, sembilan sutradara anyaran membuat film bertema lesbian, gay, biseks, dan transgender (LGBT).
Bersama sembilan sutradara anyaran, aktris dan sutradara Lola Amaria, 35 tahun, tengah mempersiapkan proyek kumpulan film pendek berjudul Sanubari Jakarta. Film yang berterita tentang komunitas tertentu yang memiliki orientasi seksual menyimpang. Masing-masing sutradara membuat sejumlah film yang masing-masing berdurasi 10 menit.
Dalam film pendek ini, Lola menyutradarai satu cerita berjudul Lumba Lumba, yang mengisahkan seorang guru TK Lumba Lumba bernama Adinda yang menyukai sesama jenis (lesbi). Sebelumnya, Lola telah membuat film Minggu Pagi di Victoria Park yang bercerita tentang kehidupan TKW di Hong Kong.
Sedangkan Dinda Kanya Dewi menyutradarai Malam Ini Aku Cantik, tentang waria yang bekerja membiayai anak dan istri di desa. Kirana Larasati membuat Topeng Srikandi, kisah perempuan bernama Srikandi yang sakit hati dan memilih menjadi laki-laki.
Menurut Lola, sutradara film Minggu Pagi di Victoria Park, film ini bukan komersial yang diputar di bioskop. “Ini akan diikutsertakan ke festival film di dalam dan luar negeri,” kata wanita kelahiran 30 Juli 1977 itu.
Lola menambahkan, para sutradara baru dan tim produksi sengaja tidak menampilkan film ke pita seluloid, karena mereka sepakat tidak ingin ada sensor dalam cerita dan memilih jalur distribusi film di kampus-kampus dan komunitas tertentu.
Menurut Lola, isu penyimpangan seksual layak diangkat dalam film karena nyata terjadi di tengah masyarakat. Perilaku penyimpangan seksual dalam komunitas itu tidak boleh dihakimi dan dipinggirkan, karena hak asasi manusia.
“Mereka nyata ada di tengah kita dan kita sebagai manusia tidak boleh menghakimi. Kembali ke pribadi masing-masing karena itu hak asasi manusia,” ujarnya. “Sebenarnya tak banyak yang diharapkan komunitas itu, mereka hanya ingin tidak ada diskriminasi karena mereka juga sama dengan kita. Makanya film ini kita buat tanpa ada rasa diskriminasi terhadap pihak minoritas,” tambahnya. Pastinya, sebagai sineas muda, Lola mengaku sangat perhatian dengan tema-tema sosial seperti ini.
Proyek film penyimpangan seksual ini didukung oleh Kresna Duta Foundation, lembaga nonprofit didirikan oleh Lola bersama dua rekannya, Fira Sofiana (produksi film) dan Dimas Hary (pekerja sosial). “Yayasan ini peduli pada isu sosial, perempuan, hak asasi manusia, dan anak,” kata Lola.
Peduli sosial dan perempuan dengan cara mengeksploitasi penyimpangan seksual perempuan demi piala perfilman? [taz/dbs] source voa-islam.com
Selasa, 17 Januari 2012
Suryadharma Ali: Pencabutan Perda Miras Pesanan Pengusaha Miras
TANGERANG (voa-islam.com) - Menteri Agama Suryadharma Ali sekaligus Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) melakukan jalan sehat dengan mengelilingi Kota Tangerang, Ahad pagi (15/01/2012).Dalam acara tersebut, Suryadharma Ali dimintai komentarnya terkait rencana pencabutan Perda Miras, yang salah satunya ada di Kota Tangerang.
"Selaku Menteri Agama, kedudukan saya tentu menjalankan perundang-undangan yang berlaku. Namun, demikian masih banyak kebaikan-kebaikan yang perlu diatur. Upaya DPRD, Pemda dan masyarakat tentu untuk kebaikan dan kesehatan serta guna mencegah atau menumbuhkan generasi pemabuk," katanya,
Suryadharma Ali berang mendengar terbitnya surat edaran Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi Nomor 188.34/ 4561/SJ tanggal 16 November 2011 yang mengusulkan untuk mencabut Perda Larangan Miras di sejumlah daerah.
Ketua Umum DPP PPP ini mengatakan, pencabutan Perda Larangan Miras tersebut cukup mengejutkan. Bahkan, Suryadharma mensinyalir ada kepentingan pengusaha di balik pencabutan Perda tersebut.
Ketua Umum DPP PPP ini mengatakan, pencabutan Perda Larangan Miras tersebut cukup mengejutkan. Bahkan, Suryadharma mensinyalir ada kepentingan pengusaha di balik pencabutan Perda tersebut.
”PPP sangat tegas menolak miras. Dugaan adanya kepentingan bisa diartikan seperti itu. Karena dengan adanya Perda Larangan Miras, distribusi miras menjadi menurun. Isu ini tentu sulit dibantah kalauada pesanan dari pengusaha miras,” tegas Suryadharma Ali di sela-sela acara jalan sehat mengelilingi Kota Tangerang.
Suryadharma menegaskan, PPP akan mendukung upaya perlawanan dari elemen masyarakat yang menolak pencabutan Perda Larangan Miras. ”Kita berharap upaya masyarakat, pemda, dan DPRD maupun para tokoh agama tidak berhenti dan terus berjuang. Ada dimensi hati, keimanan, dan nilai kalau ada aturan,” tandas Menteri Agama ini.
Suryadharma menegaskan, PPP akan mendukung upaya perlawanan dari elemen masyarakat yang menolak pencabutan Perda Larangan Miras. ”Kita berharap upaya masyarakat, pemda, dan DPRD maupun para tokoh agama tidak berhenti dan terus berjuang. Ada dimensi hati, keimanan, dan nilai kalau ada aturan,” tandas Menteri Agama ini.
Terkait rencana ribuan massa dari Kota Tangerang yang akan mendatangi ke Kantor Mendagri, Suryadharma mengimbau agar dilakukan secara tertib. Menurutnya sah-sah saja menyampaikan aspirasi, namun tetap dalam keadaan damai dan ketertiban.
Sementara itu Sekretaris Fraksi PPP DPR/MPR RI M Arwani Thomafi mengatakan, aksi yang berujung anarkistis saat demonstrasi penolakan pencabutan Perda Miras tak perlu terjadi jika pemerintah segera merespons permintaan publik. Artinya, pemerintah harus berani membuka ruang dialog dengan mereka. ”Kalau sedari awal ada komunikasi yang baik, maka tidak akan ada aksi anarkistis,” tandasnya.
Anggota Komisi V DPR ini juga mengatakan, yang terpenting ke depan adalah substansi dari persoalan, yakni tuntutan pencabutan surat edaran Mendagri mengenai pencabutan Perda Larangan Miras. PPP, ujarnya, tidak ingin ada pembelokan isu sehingga substansi yang diperjuangkan masyarakat menjadi kabur.
”Jangan hanya aksi yang berujung anarkistis yang disorot.Pemicunya juga harus diselesaikan agar tidak berulang lagi,” pinta Ketua DPP PPP Bidang Komunikasi dan Hubungan Media ini.
Anggota Komisi V DPR ini juga mengatakan, yang terpenting ke depan adalah substansi dari persoalan, yakni tuntutan pencabutan surat edaran Mendagri mengenai pencabutan Perda Larangan Miras. PPP, ujarnya, tidak ingin ada pembelokan isu sehingga substansi yang diperjuangkan masyarakat menjadi kabur.
”Jangan hanya aksi yang berujung anarkistis yang disorot.Pemicunya juga harus diselesaikan agar tidak berulang lagi,” pinta Ketua DPP PPP Bidang Komunikasi dan Hubungan Media ini.
Hingga saat ini, polemik Surat Edaran Mendagri No. 188.34/4561/SJ tanggal 16 November 2011 terus mengundang protes sejumlah Ormas Islam seperti FUI dan FPI, aksi demonstrasi pun terjadi pada Kamis lalu (12/1/2012). Di antara perda yang diusulkan untuk dicabut dengan surat edaran tersebut adalah Perda No 7 Tahun 2005 di Kota Tangerang, Perda Nomor 15 tahun 2006 di Kabupaten Indramayu dan Perda Nomor 11 tahun 2010 Kota Bandung. (Widad/dbs)
Jumat, 23 Desember 2011
Kristenisasi Makin Brutal! Dari Masjid Umat Diangkut ke Gereja, Dipaksa Kebaktian!

JAKARTA (SoB News) – Jelang Natal tipuan kristenisasi makin brutal! Umat, tokoh dan ormas Islam harus meningkatkan kewaspadaan, karena para misionaris sudah berani menipu umat Islam secara terang-terangan menipu umat Islam, berkedok sembako di masjid.
Kasus tipuan kristenisasi yang terkini, terjadi di Jakarta dan Bekasi pada hari Minggu lalu (18/12/2011). Dengan iming-iming sembako di masjid, lalu ratusan umat diangkut ke gereja dan dipaksa mengikuti kebaktian.
Mulanya, seorang wanita berusia sekira 55 tahun mendatangi para tukang becak di Bekasi, Kranji, dan sekitarnya. Wanita berjilbab ini menawarkan bantuan sembako kepada para tukang becak.
Dengan senang hati, para tukang becak menerima tawaran ini, karena mereka dikumpulkan di Masjid Al-Ikhlas Duren Jaya, Bekasi. Setelah menunggu satu jam, sebuah mobil menjemput mereka.
“Kalau mau, ngambilnya di Jakarta. Besok ngumpul di Masjid Al-Ikhlas jam 2 siang. Kita naik mobil ke Jakarta,” ujar Jaka (54), salah satu korban tipuan kristenisasi, menirukan wanita utusan gereja itu.
Tepat pada waktu yang dijanjikan, 19 orang tukang becak dan para ibu berjilbab menunggu di Masjid Al-Ikhlas, Ahad (18/12/2011). Setelah menunggu setengah jam, mereka diangkut ke Jakarta menggunakan angkot Elf 01 jurusan Bekasi-Pulogadung.
Tak disangka, ternyata rombongan kaum miskin ini diangkut ke sebuah ruko di kawasan Kelapa Gading. “Pas sampai, saya kaget, kok di ruko? Lalu saya dan teman-teman disuruh masuk, naik ke lantai tiga” papar Jaka.
Di dalam gedung yang ternyata adalah gereja itu, sudah berkumpul 700-an orang yang siap beribadah. Tidak semuanya Kristen, tapi sebagian umat Islam, karena banyak wanita berjilbab.
Ternyata, rombongan tukang becak dari Bekasi itu tidak sendirian, ada juga rombongan umat Islam dari Tanjungpriok, Tipar, Cakung, dan sebagainya. Mereka juga dijanjikan akan diberi sembako gratis.
Di dalam ruangan yang ternyata gereja itu, rombongan di suruh duduk di kursi, berbaur dengan hadirin lainnya untuk mengikuti kebaktian. “Di dalam kami tidak ngapa-ngapin, cuma disuruh ngikut-ngikutin. Nyanyi-nyanyi dan berdoa,” jelas Jaka.
Karena ritual di gereja itu tidak sesuai dengan ajaran agamanya, maka Jaka tak mau mendengarkan apapun, baik ceramah maupun nyanyian pujian. “Saya gak dengerin sedikit pun. Saya hanya nunduk aja,” ujar Jaka. “Ajaran Kristen gak masuk sedikitpun ke hati saya,” tambahnya.
Protes yang sama dilakukan oleh Ziyad, tukang becak yang terkenal fanatik dalam Islam. Di dalam gereja, ia melantunkan kalimat-kalimat islami dengan suara keras, tak peduli siapapun di sekitarnya. “Makanya saya cuma bilang masya Alloh! Masya Alloh dengan keras! Saya gak peduli di sekitar saya ada orang Cina dan Batak,” tuturnya.
Penyesalan serupa juga dirasakan oleh Wasli. Tukang becak warga Kampung Mede Bekasi ini mengecam pihak gereja yang sudah terang-terangan melecehkan agamanya.
“Masya Allah, kayak gini rupanya. Apalagi ini cuman sembako. Dihargai seratus ribu juga saya gak bakalan datang kalau disuruh ibadah di gereja ginian mah,” ujar pria berusia 50 tahun itu. “Kalau tahu itu gereja mah, baru sampai di depannya saya langsung kabur. Ini bukan cari kebenaran tapi cari neraka!” tambahnya.
....Setelah kejadian ini saya kapok. Gak bakalan mau diajak-ajakin ke gereja. Gak bakalan mau diiming-iming sembako kalau belum jelas orangnya...
Meski protes dan berontak, namun Wasli merasa tak bisa berbuat apa-apa, karena semua tukang becak dan umat Islam yang sudah masuk gereja itu dilarang keluar sebelum acara berakhir. “Masalahnya gak boleh keluar. Kalau boleh keluar, saya langsung pulang,” jelas Wasli
Saking ketatnya penjagaan gereja, satpam mengawasi seluruh gerak-gerik umat Islam agar tidak kabur dari ruang kebaktian. “Jangankan keluar, mau kencing saja sama satpamnya diawasi,” tutur Wasli. “Belum selesai gak boleh keluar. Mau kencing, mau mandi silakan, tapi gak boleh pulang,” ujar Wasli menirukan satpam.
Tepat pukul 21.00, kebaktian gereja berakhir. Rombongan umat Islam yang diangkut dari berbagai daerah itu pun disuruh pulang tanpa diberi apapun. Tak ada sembako maupun transport sedikit pun seperti yang mereka janjikan sebelumnya.
Mereka hanya diberi air minum, roti bungkus yang tertera label harga Rp 1.000 dan kalender Kristen terbitan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Jemaat MOI yang beralamat di Ruko Gading River View Blok H/2, Mall of Indonesia (MOI), Kalapa Gading Jakarta.
“Nggak ada itu sembako atau uang transport sama sekali. Boro-boro dikasih uang transport. Orang saya sampai rumah jam 10 malam, langsung makan karena lapar. Padahal saya berangkat dari jam 12 siang dari rumah. Saya nggak dikasih apa-apa, cuma dikasih air, roti yang harganya seribuan, sama kalender Kristen itu. Air juga gak saya minum, roti juga nggak saya makan. Saya buang aja di gereja itu,” ujar Jaka geram. “Makanya rombongan dari Priok ribut karena janjinya tak ditepati. Kami dibohongin,” tambahnya.
...Kalau tahu mau dibawa ke gereja, dorongin aja badan saya pakai mobil, kagak bakalan saya mau ikut...
Para tukang becak Bekasi itu menilai kebohongan gereja sudah luar biasa dan keterlaluan, karena berani memperalat masjid untuk kristenisasi. “Saya tidak curiga kalau mau dibohongin ke gereja, karena mereka mengumpulkan rombongan mau ambil sembako di masjid. Saya kan percaya sama masjid. Pikir saya ngambil sembakonya itu di masjid yang dikasih oleh orang partai,” ujar Wasli. “Ini bukan dibohongin lagi. Mending narik becak dapat duit. Kalau gak dibohongin gereja, narik becak juga dapat saya kalau 25 ribu dari jam 11 siang sampai sore,” imbuhnya.
Pengalaman ditipu oknum Gereja Bethel itu membuat para tukang becak Bekasi sinis kepada gereja dan orang Kristen. “Setelah kejadian ini mah, saya kapok. Gak bakalan mau diajak-ajakin ke gereja. Gak bakalan mau diiming-iming sembako kalau belum jelas orangnya,” jelas Wasli. “Kalau tahu mau dibawa ke gereja, dorongin aja badan saya pakai mobil, kagak bakalan saya mau ikut!” tutupnya. [taz]
voa-islam.com
Senin, 19 Desember 2011
Warga Mesuji: Demi Allah Video Penyembelihan Kepala itu Bukan Rekayasa
Jakarta (SoB News) – Warga Mesuji yang ditemui Voa-Islam di sebuah tempat yang disembunyikan di Jakarta memastikan, video yang memperlihatkan gambar penyembelihan kepala warga oleh oknum aparat keparat itu betul-betul terjadi, dan bukan hal yang direkayasa.
“Demi Allah, dunia-akhirat, pembunuhan keji itu betul-betul terjadi. Saya bisa membantah bukti video yang menunjukkan gambar pemotongan kepala warga. Tapi yang jelas, video itu bukan rekayasa. Penyembelihan kepala itu memang benar ada,” kata Abdul Madjid atau yang akrab di sapa Trubus menanggapi pemberitaan yang menyebutkan bahwa video yang menggambarkan pemenggalan kepala itu rekayasa. Trubus adalah salah seorang korban dan bekas Pam Swakarsa yang ditemui di Jakarta, Sabtu (17/11) lalu.
Menurut Trubus, warga Mesuji yang asli Solo itu, dua kepala manusia yang dipenggal, lalu diletakkan di atas kap mobil itu adalah kepala warga Mesuji bernama Kalung dan Macan (nama panggilan, bukan nama asli). Keduanya adalah cucu dari Haji Jalang, salah seorang tokoh masyarakat yang berpengaruh di Mesuji, Lampung.
Seperti diberitakan media massa, ada dugan tayangan gambar kekerasan di Mesuji yang diputar di Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Rabu (14/12) lalu telah ditambahi materi yang tidak relevan dengan kasus Mesuji. Diduga, sebagian materi video itu berasal dari Thailand Selatan.
“Pembantaian di Mesuji memang ada. Kami mendapat laporan itu sejak sebelum 2009. Hal itu diketahui, ketika perwakilan warga Mesuji memutar kembali video yang berisi rekaman pembantaian di kantor Kontras, Jumat lalu. Film ini diputar setelah warga mengadkan jumpa pers. Ketika diminta menerjemahkan kata-kata yang terekam dalam beberapa bagian video, beberapa warga Mesuji tampak bingung,” kata Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar.
Kuasa hukum warga Mesuji, Bob Hasan, tak membantah ada bagian video yang bukan dari Mesuji. Tapi Bob memastikan sebagian besar isi video itu benar. Misalnya, gambar penggalan kepala yang ditaruh di atas mobil merah dan mayat yang digantung. Juga perusakan rumah dan penembakan terhadap warga. “Kami berharap pemerintah tetap focus menyelesaikan persoalan warga Mesuji dengan perusahaan perkebunan,” kata Bob Hasan.

Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Denny Indrayana menyatakan segera memverifikasi video yang diduga dari kawasan Pattani, Thailand Selatan itu. Ia juga menjamin akan meminta pertanggungjawaban semua pihak yang bersalah dalam kasus ini. Jangan sampai tragedy ini terulang.
Video Paling Biadab
Sangat mengerikan menyaksikan video penyembelihan yang diputar di Komisi III dan kantor Komnas HAM belum lama ini di Jakarta. Ada dua video yang merekam proses pemenggalan dua kepala pria. Terlihat, satu pria bersenjata api laras panjang dengan penutup kepala warna hitam memegang kepala yang telah terpenggal. Selain merekam pembunuh keji, video lain memperlihatkan kerusakan rumah penduduk. Video ini direkam oleh seorang saksi insiden ini yang kabarnya seorang mantan Pam Swakarsa yang membelot. Gambar dalam video tersebut merupakan pembunuhan yang terjadi mulai dari Kabupaten Mesuji sampai wilayah Sumatra Bagian Selatan (Sumabgsel).
Di dalam video tersebut, seseorang berpakaian gelap sedang menyembelih seorang petani di tengah teriakan dan tembakan, kemudian potongan kepala itu dipertontonkan dan di rekam dan difoto dengan telepon seluler. Ditunjukkan pula dua petani yang mati berlumuran darah di tengah lapangan terbuka, di kelilingi aparat berseragam hijau dan hitam. Di akhir pemutaran video, tampak dua kepala diletakkan di atas kap truk, sementara puluhan warga tampak melihat dari kejauhan,
Foto dan video yang berhasil didapatkan voa-islam, juga memperlihatkan dua orang korban yang ditembak aparat keparat di sebuah kampung yang bernama Kampung Pekat atau Nanasan, kawasan Pelita Jaya. Diketahui, kedua korban warga Pelita Jaya, Mesuji, itu bernama Komang dan Made. Adapun Komang ditembak kakinya, saat ini masih hidup dan siap menjadi saksi. Sedangkan Made tertembak mengenai pantat hingga menembus kemaluannya. Made mati di tempat karena kehabisan darah.
Penembakan ini terjadi karena tidak adanya kejelasan mengenai areal yang dihuni warga. Ironisnya, kejadian ini disaksikan langsung oleh Kapolsek setempat dari jarak dekat. Bahkan juga disaksikan oleh para Muspida,Camat, dan Bupati di wilayah itu. Anehnya, tidak ada laporan apapun dari pimpinan daerah tersebut.
Ada dua perusahaan yang ingin memperluas lahan di atas tanah milik warga, yakni PT. Silva Inhutani dan PT. Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI). Masing-masing berada di wilayah yang berbeda. Adapun perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Silva Inhutani adalah milik warga negara Malaysia bernama Benny Sutanto alias Abeng. Investasi pengusaha Malaysia ini dilakukan sejak tahun 2003, namun upaya PT. Silva Inhutani membuka lahan untuk menanam kelapa sawit dan karet selalu ditentang penduduk setempat.
“Para pengusaha ini meminta bantuan kepada aparat keamanan untuk mengusir penduduk karena tidak mampu mengusir, disamping itu perusahaan ini membentuk Pam Swakarsa yang membenturkan rakyat dengan rakyat. Tetapi di belakangnya adalah aparat kepolisian,” katan Bob Hasan, pengacara warga Mesuji, Lampung. Desastian. voa-islam.com
Langganan:
Postingan (Atom)



